SUPERMAN IS DEAD : MEMBERI PELAJARAN DI BALIK SUATU KARYA SENI
Awalnya
saya tidak terlalu suka dgn band ini, maklum ditahun 2003 saat album
mereka mulai laris di pasaran. Saya masih suka mendengarkan lagu-lagu
boyband luar negeri dan band-band pop Indonesia yg
sedang mengejar penjualan berjuta-juta copy. Tapi band yg satu ini
lain, SID begitulah anak-anak muda memperkenalkan nama band ini kepada
saya. Musik dgn speed drum yg cepat, saya bahkan tidak tahu aliran apa
ini. Sampai akhirnya saya tahu, oh inilah yg dibilang musik punk rock.
Di luar negeri ada Blink 182 & Green Day, Cuma itu yg saya tahu dan
saya bukan tipe org yg bisa suka dgn mudah dgn sebuah band.
Dimulai
saat teman saya sedang asyik menyanyikan lagu “Punk Hari Ini” dgn
gitarnya, dalam hati saya berkata lagu siapakah ini bawa-bawa MTV sama
Blink. Teman saya menjawab SID, “masa loe kaga’ tau…?”. Dan saya jawab, “baru denger sekarang ini”. Dan
yang buat saya kaget saat pulang dan menonton MTV (tahun itu MTV masih
keren, tahun sekarang nilai sendirilah, :) ternyata SID jadi MTV
Exclusive Artist of the month. Rasa penasaranlah yg membuat saya
akhirnya harus hunting keliling berbagai toko kaset utk sekedar
mendengar lagu-lagu mereka. Tapi ternyata sulit, karena toko kaset di kota saya
ini kurang begitu beres berjualan kaset. Jika tidak datang saat album
suatu band keluar maka anda akan kehabisan. Kemudian teman saya
menyarankan utk pesan, ternyata ada toko kaset yg seperti itu. Akhirnya 1
minggu berlalu saya memiliki album pertama SID “Kuta Rock City”. Walaupun ini album keempat tapi menurut saya inilah album pertama SID.
Tanpa
ragu setiap hari saya mulai memutar lagu dalam kaset ini berulang-ulang
dan sesekali membaca liriknya dalam cover kaset, tapi apa yg dirasakan
oleh anak berumur 16 tahun yg baru belajar mengenal dunia. No Comment,
it’s just punk rock band. Tidak ada kesan spesial hingga album “Hangover
Decade” keluar ditahun berikutnya. Saya tetap hanya sebatas suka dgn
lagu-lagu mereka tanpa paham apa makna tersirat dibalik goresan tinta
dibalur nada yg dibuat Om Bobby, Om Eka dan Om Jerink.
Tahun
2006 “Black Market Love” mulai membumi dan sebagai remaja 19 tahun
pasti sudah ada hal yg saya dapat selama 3 tahun mengikuti perkembangan
dunia. (Pada saat itu saya sedang menikmati sebuah band punk lainnya
ROCKET ROCKERS dgn album RAS BEBAS-nya). Tapi justru kekagetan yg saya
rasa saat pertama kali mendengar album ini. Gelap, kelam, sedih, seperti
menceritakan sisi ketakutan manusia terhadap hidupnya dibumi yg semakin
tdk terkendali ini. Dan mulailah saya buka lagi album “Kuta Rock City”
& “Hangover Decade”, untuk mentelaah adakah sebuah pesan yg ingin
dicerna dgn kesamaan persepsi antara SID sebagai source dan Outsiders
(begitulah sebutan fans SID) sebagai receiver.
“Kuta Rock City”
lebih banyak menggambarkan keceriaan punker muda dlm menjalani hidup.
Lagu-lagu bernuansa riang dan terkadang diselingi teriakan-teriakan
seorang rocker. Suaru serak Om Bobby belum begitu kental di album ini.
Fenomena hidup yg diangkat ke permukaan menbuat sudut pandang terhadap
sesuatu akan menjadi lebih luas. Lagu tentang cinta, persahabatan,
permusuhan, kehidupan remaja dalam suatu sistem sosial ditampilkan dalam
nalar yg berbeda. Bukan percintaan yg cengeng dan penuh air mata tapi
percintaan dgn kekuatan utk tetap saling peduli dan hidup kuat ditengah
keterbatasan. Track favorit saya adalah “All Angels Cry”, saat malaikat
pun menangis melihat apa yg terjadi di dunia ini. “Can You tell me why
The world is so ugly… … …”. Suara strings disini seperti mengantar
manusia bertemu dgn malaikat, Rasakanlah…
“Hangover
Decade” album terbaik dari SID sejauh ini menurut saya. Musik yg lebih
rapih, sound yg lebih jelas dan yg pasti tdk mengurangi makna dari lagu
yg ingin disampaikan. Masih dgn tema yg sama tapi dgn penyampaian yg
beragam & lebih luas. Album ini termasuk album terbaik dalam hidup
saya mendengarkan musik. Tidak ada satu lagu yg saya sukai disini karena
semua lagi di album ini sangat sata gemari tapi jika harus memilih
satu, saya akan memilih “Fallnig Down”. Lagu yg berduet dgn Melanie
Subono ini terdengar konyol dan lucu dari segi liriknya. Mungkin ini
bagian dari sisi humor Om-Om SID. :) (sayangnya album ini dipinjam teman
saya dan dibawa pulang kampung oleh dia, jika loe baca tulisan gw > balikin ya kaset gw. Hehe…)
“Black
Market Love” lebih banyak menjelaskan tentang pesan tentang kehidupan
yg dialami Om-Om SID dalam 2 tahun terakhir apalagi semenjak terjadi
bom Bali. Hal yg sangat memukul Bali dan tentunya Indonesia juga. (Saat saya berkunjung keBali sesudah bom, aura-aura kecurigaan masih mengancam disana. Saat sebelum bom, aura kehangatan sangat terasa. L.O.V.E_B.A.L.I)
Album
ini berisi seperti kemarahan seseorang yg tertuang dengan emosi sambil
tangan yg memegang gelas dgn erat hingga gelas tersebut retak. Tentang
harapan, mimpi, perbedaan, bahwa kita hidup dgn keadaan beragam tanpa
harus saling merasa benar sendiri. Bumi ini luas dgn berjuta-juta
pemahaman individu terhadap kehidupan. Pembelajaran tentang keberagaman
adalah poin penting yg saya dapat di album ini. “Kenapa semua harus
seragam, mungkinkah kita hidup saling jaga walaupun berbeda” sesuai dgn
semboyan negara kita Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan yg hanya jadi
semboyan di negara ini, dan mulai hilang akhir-akhir ini.
“Angel
and The Outsiders” album yg rilis 2009 ini bisa dibilang sebagai suatu
persembahan buat para teman-teman yg selalu berada dibelakang dan selalu
mendukung SID. Alum hadiah begitu lah saya menyebut album ini. Hadiah
buat para Outsiders dan masayarakat Indonesia yg tdk berpikir pragmatis. Favorite track : “Saint of My Life” membuat saya ingin cepat punya anak, :).
Pembelajaran
seseorang dalam hidup terkadang didapat melalui pengalaman tapi ada hal
yg terkadang luput menjadi sebuah pelajaran, pesan dibalik sebuah lagu
itulah yg coba di tampilkan SID. Seniman yg berkualitas adalah mereka yg
bertanggung jawab terhadap karyanya. Contoh kecilnya adalah lagu “Marah
Bumi”, lagu tentang keserakahan manusia menguliti bumi. Apa yg SID
lakukan? Bersepeda utk mengurangi polusi udara. Mereka bukan malaikat
bukan juga pahlawan hanya manusia yg kadang salah dan benar yg mencoba
memberikan pelajaran terhadap anak-anak muda bangsa ini yg mulai
kehilangan arah. Pembelajaran dari sosok yg dianggap sinis oleh
orang-orang kolot karena tampilan mereka. Tetaplah berjuang Om Bobby, Om
Eka & Om Jerink, nyalakan terus api dalam dada karena kalian muda
beda dan berbahaya…!!!
(Kata Om Jerink saat acara “Bukan 4 Mata” : punk itu ada di dalam hati, bukan di penampilan)
No comments:
Post a Comment